Mengetuk Gerbang Pernikahan Barakah
September 17, 2006Barangkali, Kitalah Penyebabnya
Menjelang tengah malam, seorang ikhwan mengirim SMS kepada saya. Dia
seorang aktivis yang amat banyak menghabiskan waktunya untuk
menyebarkan kebaikan. Bila berbicara dengannya, kesan yang tampak
adalah semangat yang besar di dadannya untuk melakukan perbaikan.
Kalau saat ini yang mampu dilakukan masih amat kecil, tak apa-apa.
Sebab perubahan yang besar tak `kan terjadi bila kita tidak mau
memulai dari yang kecil. Tetapi kali ini, ia berkirim SMS bukan untuk
berbagi semangat. Ia kirimkan SMS karena ingin meringankan beban yang
hampir ada kerinduan yang semakin berambah untuk memiliki pendamping
yang dapat menyayanginya sepenuh hati.
SMS ini mengingatkan saya pada beberapa kasus lainnya. Usia sudah
melewati tiga puluh, tetapi belum juga ada tempat untuk menambatkan
rindu. Seorang pria usia sekitar 40 tahun, memiliki karier yang cukup
sukses, merasakan betapa sepinya hidup tanpa istri. Ingin menikah,
tapi takut ! tak bisa mempergauli istrinya dengan baik. Sementara
terus melajang merupakan siksaan yang nyaris tak dapat ditahan. Dulu
ia ingin menikah, ketika keriernya belum seberapa. Tetapi niat itu
dipendam dalam-dalam karena merasa belum mapan. Ia harus mengumpulkan
dulu uang yang cukup banyak agar bisa menyenangkan istri. Ia lupa
bahwa kebahagiaan itu letaknya pada jiwa yang lapang, hati yang tulus,
niat yang bersih dan penerimaan yang hangat. Ia juga lupa bahwa jika
ingin mendapatkan istri yang bersahaja dan menerima apa adanya,
jalannya adalah dengan menata hati, memantapkan tujuan dan meluruskan
niat. Bila engkau ingin mendapatkan suami yang bisa menjaga pandangan,
tak bisa engkau meraihnya dengan, “Hai, cowok…Godain kita, dong. ”
Saya teringat dengan sabda Nabi Saw. (tapi ini bukan tentang nikah).
Beliau berkata, “Ruh itu seperti pasukan tentara yang berbaris.” Bila
bertemu dengan yang serupa dengannya, ia akan mudah mengenali, mudah
juga bergabung dan bersatu. Ia tak bisa mendapatkan pendamping yang
mencintaimu dengan sederhana, sementara engkau jadikan gemerlap
kemapananmu sebagai pemikatnya? Bagaimana mungkin engkau jadikan
gemerlap kemapananmu sebagai pemikatnya? Bagaimana mungkin engkau
mendapatkan suami yang menerimamu sepenuh hati dan tidak ada cinta di
hatinya kecuali kepadamu; sementara engkau berusaha meraihnya dengan
menawarkan kencan sebelum terikat oleh pernikahan? Bagaimana mungkin
engkau mendapatkan lelaki yang terjaga bila engkau mendekatinya dengan
menggoda?
Di luar soal cara, kesulitan yang kita hadapi saat ingin meraih
pernikahan yang diridhai tak jarang kerana kita sendiri
mempersulitnya. Suatau saat seorang perempuan memerlukan perhatian dan
kasih-sayang seorang suami, ia tidak mendapatkannya. Di saat ia
merindukan hadirnya seorang anak yang ia kandung sendiri dengan
rahimnya, tak ada suami yang menghampirinya. Padahal kecantikan telah
ia miliki. Apalagi dengan penampilannya yang enak dipandang.
Begitupun uang, tak ada lagi kekhawatiran pada dirinya. Jabatannya
yang cukup mapan di perusahaan memungkinkan ia untuk membeli apa saja,
kecuali kasih-sayang suami.
Kesempatan bukan tak pernah datang. Dulu, sudah beberapa kali ada yang
mau serius dengannya, tetapi demi karir yang diimpikan, ia menolak
semua ajakan serius. Kalau kemudian ada hubungan perasaan dengan
seseorang, itu sebatas pacaran. Tak lebih. Sampai karier yang
diimpikan tercapai; sampai ia tiba-tiba tersadar bahwa usianya sudah
tidak terlalu muda lagi; sampai ia merasakan sepinya hidup tanpa
suami, sementara orang-orang yang dulu bermaksud serius dengannya,
sudah sibuk mengurusi anak-anak mereka. Sekarang, ketika kesadaran itu
ada, mencari orang yang mau serius dengannya sangat sulit. Sama
sulitnya menaklukkan hatinya ketika ia muda dulu.
Masih banyak cerita-cerita sedih semacam itu. Mereka menunda
pernikahan di saat Allah memberi kemudahan. Mereka enggan
melaksanakannya ketika Allah masih memberinya kesempatan karena alasan
belum bisa menyelenggarakan walimah yang “wah”. Mereka tetap mengelak,
meski terus ada yang mendesak; baik lewat sindiran maupun dorongan
yang terang-terangan. Meski ada kerinduan yang tak dapat diingkari,
tetapi mereka menundanya karena masih ingin mengumpulkan biaya atau
mengejar karier. Ada yang menampik “alasan karier” walau sebenarnya
tak jauh berbeda. Seorang akhwat menunda nikah mesti ada yang
mengkhitbah karena ingin meraih kesempatan kuliah S-2 (”Tahun depan
kan belum tentu ada beasiswa”). Ia mendahulukan pra-sangka bahwa
kesempatan kuliah S-2 tak akan datang dua kali, lalu mengorbankan
pernikahan yang Rasullah Saw. Telah memperingatkan:
“Apabila datang kepadamu seorang laki-laki (untuk meminang) yang
engkau ridha terhadap agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah dia. Bila
tidak engkau lakukan, maka akan terjadi fitnah di muka bumi dan akan
timbul kerusakan yang merata di muka bumi.” (HR. At-Ti! rmidzi dan
Ahmad).
bersambung …
Oleh: Mohammad Fauzil Adhim

menurut gue pernikahan itu adalah hal yang sakral..kita menunda pernikahan pun pasti alesannya tuk lbh baik kagi dimassa depan.Biarpun lahir bathin siap kalo jodohnya belum ketemu,pernikahan itu nggak akan terlaksana.buktinya saya pengen menikah muda tapi ekonomi sang pacar belum mendukung…
Comment by cinderella — August 15, 2008 @ 8:01 am